Tampilkan postingan dengan label Padamu Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padamu Negeri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2009

Tari Tradisional


Kita dan Tarian Tradisional Indonesia

Salam Imba…!!!!

Kawan-kawan semua, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi cerita sedikit tentang TARI. Namun, di sini saya hanya akan bercerita tentang TARI TRADISIONAL INDONESIA. Kebetulan saya sendiri sangat suka dengan TARI TRADISIONAL. Kita tahu negara kita adalah Negara yang kaya akan kebudaannya. Mulai dari berbagai suku yang ada di Indonesia, bahasa, rumah adat, lagu daerah, senjata tradisional, pakaian adat, hingga tarian tradisional. Kebudayaan-kebudayaan inilah yang membuat negara kita mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan negara-negara lain. Salah satu kebudayaan kita yang membuat kita terkenal di dunia internasional adalah TARI TRADISIONAL Indonesia. Mulai dari Tari Saman dari Aceh, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Srimpi dari Jawa Tengah, Tari Kecak dan Tari Pendet dari Bali, dan masih banyak lagi yang lain. Terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang datang ke Indonesia karena rasa penasaran dan ingin melihat langsung tarian-tarian tersebut. Kita sebagai warga negara Indonesia pemilik kebudayaan tersebut pasti bangga, bukan?

Namun, dengan perkembangan jaman yang super canggih ini, banyak orang khususnya para remaja yang menganggap tarian tradisional itu sudah tidak jaman, sudah tidak pas di kehidupan sekarang. Apalagi dengan adanya banyak jenis tarian modern seperti breakdance, hip-hop, cheerleader yang lebih diminati oleh para remaja. Saya yakin teman-teman tidak masuk dalam kelompok remaja yang tidak bangga pada tarian tradisional. Kita pasti merasa bangga mempunyai kebudayaan yang belum tentu negara lain punya. Teman-teman pasti tahu kasus Indonesia VS Malaysia tentang pengklaiman beberapa kebudayaan indonesia. Salah satu di antara kebudayaan Indonesia yang diklaim Malaysia adalah TARI PENDET dari Bali. Itu membuktikan bahwa Malaysia ingin sekali memiliki tarian tradisional yang sudah mendunia tersebut karena mereka sendiri tidak mempunyai tarian seperti yang dimiliki Indonesia. Hal itu dapat terjadi juga karena Malaysia tahu masyarakat Indonesia kurang memberi perhatian lebih, sehingga mereka berpikir akan mempermudah dalam mengklaim kebudayaan-kebudayaan Indonesia. Itulah kekurangan kita, semakin lama semakin tidak peduli dengan kebudayaan kita sendiri. Siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia selain kita sendiri, masyarakat Indonesia? Akankah kita harus kehilangan ciri khas negara kita hanya karena sifat acuh kita terhadap kebudayaan Indonesia?

Selain karena menganggap tarian tradisional sudah ketinggalan jaman, banyak kalangan remaja yang tidak mau mempelajari tari tradisional karena tarian tradisional itu susah dan ribet. Mulai dari gerakannya, pakaiannya dan juga iringan atau musiknya. Sebenarnya itu tidak sesusah dan seribet yang teman-teman bayangkan. Kalau teman-teman mau mempelajari dan mendalami lagi, pasti kalian akan terbiasa dan akan sangat menikmati keselarasan antara gerakan, pakaian dan juga iringan tari tradisional. Apalagi sekarang banyak tarian tradisional yang dipadukan atau dikolaborasikan dengan gerakan tarian dan iringan musik tari modern tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan tradisional itu sendiri. Hal itu ditunjukkan untuk membuat masyarakat lebih tertarik dengan tarian tradisional dan menunjukkan bahwa tarian tradisional juga dapat dipadukan dengan kebudayaan modern (fleksibel).

Kurang minatnya anak muda jaman sekarang dengan tari tradisional juga disebabkan karena mereka tidak dibiasakan dari dini untuk mengenal berbagai tarian tradisional Indonesia. Apalagi sekarang, banyak orangtua yang menilai mengenal dan mempelajari tari tradisional itu tidak penting. Akan lebih penting kalau anak-anaknya belajar matematika, kimia, fisika, biologi dan lain-lain. Pelajaran-pelajaran yang disebutkan tadi itu memang penting. Namun, coba kalau kita berpikir lebih luas. Jika semua orangtua berpikiran seperti itu, apa jadinya negara kita? Kita akan kehilangan ciri khas negara kita sendiri. Kita adalah generasi muda harapan bangsa. Kita dituntut untuk bisa mempertahankan dan memajukan negara Indonesia tercinta ini. Termasuk dengan menjaga dan melestarikan kebudayan-kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, selain kita dituntut untuk menguasai bidang akademis, kita juga harus menguasai bidang non-akademis. Contohnya menguasai tarian tradisional Indonesia.

Pemerintah Indonesia sekarang sedang berupaya untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan Indonesia. Pemerintah lebih menekankan kepada generasi muda yang diharapkan akan melanjutkan Indonesia ke depan. Sekarang pelajaran seni budaya termasuk pelajaran yang dianggap penting seperti pelajaran-pelajaran eksak lainnya. Karena dengan pelajaran seni budaya inilah kita akan mempelajari kesenian-kesenian dan kebudayaan-kebudayaan asli Indonesia. Hal ini sangat diharapkan dapat membantu pemerintah dalam upaya menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia yang sasarannya tepat untuk para generasi muda. Kita ambil contoh SMA N 1 Puwokerto (SMANSA). Di SMANSA pelajaran seni budaya mendapat perhatian lebih oleh para guru dan siswanya. Selain ingin mencetak generasi penerus yang mempunyai kemampuan akademis yang bagus, mereka juga diharapkan untuk dapat menjadi generasi muda yang cinta tanah air, slah satu caranya dengan mencintai dan menghargai kebudayaan Indonesia sendiri. Sebagai contoh, siswa-siswi SMANSA dituntut agar dapat menguasai 1 tarian tradisional dan juga dapat mengapresiasikan berbagai tarian tradisional yang ada di Indonesia. Selain itu, siswa-siswi SMANSA juga dituntut agar dapat menguasai alat musik gamelan khas Jawa Tengah sekaligus menciptakan tarian yang diiringi langsung oleh musik gamelan itu sendiri. Itu merupakan bukti bahwa kita benar-benar diharapkan bisa ikut mempertahankan kebudayaan-kebudayaan Indonesia.

Oleh karena itu, untuk teman-teman semuanya, sebelum terlambat, mari kita tumbuhkan cinta tanah air kita salah satunya dengan mencintai kebudayaan Indonesia sendiri. Termasuk dengan mengenal dan mendalami tari tradisional yang banyak sekali macamnya dan pasti akan sangat menyenangkan. Tidak ada kata malu, ketinggalan jaman untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Semangat generasi muda Indonesia, kita pasti bisa ! ! !

( Ayu Andini Putri )


Galeri:
















Minggu, 22 November 2009

Nasionalisme - 2

SIAPA BUNG TOMO SELANJUTNYA?


Setiap negara dapat terbentuk karena adanya kesamaan tujuan dari rakyatnya. Kesamaan tujuan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan dan persatuan yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensi dari negara tersebut. Segala masalah-masalah negara, baik itu masalah internal maupun eksternal, dapat diselesaikan dengan baik jika rakyat memiliki rasa kebersamaan dan persatuan yang tinggi, hingga melahirkan suatu semangat Patriotisme dan Nasionalisme.

Sekarang, mari kita tengok Indonesia. Negara kita tercinta ini juga memiliki tujuan yang sangat mulia. Tujuan Indonesia tertera pada Pembukaan UUD 1945 alinea 4, yaitu ”untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Namun, pada kenyataannya tujuan tesebut seakan-akan hanya menjadi mimpi yang tidak mungkin dapat terwujud. Padahal Indonesia merupakan negara yang kaya. Terdiri dari 17.508 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan berbagai macam suku dan kebudayaan. Dengan populasi 234 juta jiwa (perkiraan pada bulan Juli 2007), Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, sekitar 4,85% dari jumlah seluruh wilayahnya. Sumber daya alamnya pun begitu potensial.

Lalu, apa yang menjadi penyebab kemunduran bangsa kita? Kesalahan terletak pada lunturnya kecintaan kepada tanah air kita. Tak ada lagi semangat persatuan. Tak ada lagi semangat bela negara. Bahkan tak sedikit putra-putri Indonesia yang malu menjadi warga negara Indonesia.

Peran serta rakyat Indonesia diuji sekarang. Di manakah mereka saat negara membutuhkannya? Hal ini terutama dibebankan kepada generasi muda. Mereka lah para penerus bangsa. Mereka yang menerima tongkat estafet perjuangan generasi pendahulunya. Indonesia akan hancur jika tak ada lagi generasi muda yang peduli terhadap bangsanya.

Sebenarnya, sejarah Indonesia telah mencatat bahwa generasi muda mempunyai peran yang dominan sebagai penggerak perubahan, termasuk dalam hal ini adalah perubahan peta politik kekuasaan Indonesia. Misanya pada masa kerajaan Majapahit berkuasa, Hayam Wuruk, yang saat itu usianya masih muda, tampil sebagai raja Majapahit dan mampu membawa kerajaan tersebut ke era keemasannya.

Kemudian pada masa revolusi kemerdekaan, generasi muda dengan gagah perkasa tampil sebagai benteng kemerdekaan. Jenderal Soedirman dengan Perang Gerilyanya. Soetomo yang mampu membakar semangat arek-arek Surabaya dalam persitiwa 10 November, yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan. Terakhir, rezim Orde Lama juga digulingkan oleh para pelajar Indonesia.

Sepak terjang generasi muda sebagai agen pembawa perubahan tidak lepas dari rasa tanggung jawab mereka terhadap kondisi sosial yang tidak baik. Rasa tanggung jawab dalam diri generasi muda muncul dengan dilandasi semangat perjuangan, yaitu semangat berani berkorban demi kebenaran dan keadilan yang semuanya adalah untuk kepentingan rakyat. Semangat inilah yang mendorong mereka untuk berjuang secara total tanpa menghitung untung ruginya bagi kepentingan pribadi.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah ”mampu dan maukah generasi muda sekarang ini mewarisi semangat perjuangan yang berpuncak demi rakyat?” Pertanyaan ini layak dimunculkan karena dewasa ini telah berkembang fenomena kehidupan generasi muda yang mulai kehilangan semangat perjuangan, semangat bela negara. Mereka acuh tak acuh dengan perkembangan negaranya. Semangat perjuangan untuk memajukan Indonesia dengan cara mencapai tujuan negara nyaris tak ada. Pemuda-pemudi Indonesia sebagai agen pembawa perubahan mulai kehilangan tajinya.

Contoh besar dalam hal ini adalah gaya hidup yang merusak masa depan. Budaya sex bebas dan narkoba semakin menghancurkan mental dan moral bangsa. Contoh lain adalah budaya korupsi yang mulai menjangkiti elit-elit muda yang aktif dalam dunia politik. Mereka yang dipilih oleh rakyat justru semakin menyengsarakan rakyat.

Fenomena di atas sungguh memprihatinkan. Bila tidak diantisispasi secara dini, wajah Indonesia beberapa tahun yang akan datang akan menjadi ”buruk muka”. Jika sudah demikian, siapakah yang bertanggung jawab?

Generasi muda sebagai penerus perjuangan generasi terdahulu tentu saja mengemban tanggung jawab tersebut. Namun, generasi lama pun memiliki andil yang cukup besar. Sebab, tak dapat disangkal lagi bahwa mereka lah yang sejatinya memiliki tugas untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara kepada generasi penerusnya. Penanaman nilai-nilai ini lah yang menunjukkan adanya makna dan eksistensi dari bangsa dan negara ini.

Nilai-nilai yang harus ditanamkan dan dipertahankan adalah nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu nilai yang paling berperan adalah semangat perjuangan, yaitu keberanian untuk mempertahankan martabat diri dan kebermaknaan bangsa dan negara. Nilai ini disebut dengan patriotisme. Sebuah semangat yang menyebabkan semua anggota negara memiliki fanatisme untuk mempertahankan dan memperjuangkan keberlangsungan bangsa dan negara.

Penanaman semangat patriotisme kepada generasi muda tentunya harus dengan mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa tersebut. Untuk negara Indonesia yang tercinta ini, nilai-nilai luhur yang dimaksud adalah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Sehingga, tercipta lah suatu semangat perjuangan berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila yang dapat mewujudkan keutuhan bangsa dan negara.

Tentu saja, penanaman semangat patriotisme ini membutuhkan proses dan berbagai sarana. Adanya pendidikan tentang bela negara merupakan salah satu syarat mutlak agar cita-cita ini dapat tercapai. Sebab, semangat patriotisme harus ditanamkan sejak dini sehingga dapat mengakar dalam sanubari pemuda-pemudi Indonesia.

Sekolah sebagai agen pendidikan formal adalah salah satu agen pengemban tugas ini. Kegiatan-kegiatan sekolah harus bisa meningkatkan kecintaan pemuda-pemudi Indonesia terhadap negaranya. Guru-guru bertugas untuk memberikan pengajaran dan pembinaan mengenai hal ini. Oleh karena itu, guru-guru harus bisa menjadi teladan yang baik bagi siswa-siswinya. Hal ini penting karena keterbiasaan siswa-siswi dengan hal-hal buruk akan menyebabkan munculnya iklim dan budaya buruk yang dapat menghambat tumbuhnya semangat patriotisme.

Misalnya, guru-guru yang sering meninggalkan kelas atau terlambat dapat menimbulkan kebiasaan buruk bagi siswa-siswi, yaitu berkurangnya keidisiplinan. Contoh lainnya, guru-guru yang biasa mengajar satu arah dan memposisikan murid hanya sebagai objek pengajaran juga dapat mematikan sifat kritis, kreatif, dan demokratis.

Dari dua contoh di atas, dapat ditarik satu ketertaitan, yaitu timbulnya sifat malas. Malas melakukan pergerakan, malas bertanya, malas berpendapat, dan malas-malas lainnya. Sifat ini dapat menjadi momok yang sangat berbahaya bagi generasi muda. Sebab, malas merupakan salah satu sifat yang kontra dan tidak sinergi dengan semangat patriotisme.

Agen lain yang berperan dalam penanaman semangat patriotisme adalah keluarga, teman sepermainan, dan media, atau dengan kata lain, lingkungan tempat mereka tinggal. Budaya-budaya buruk yang ada dalam keluarga dan kelompok teman sebaya, misalnya kekerasan, kebebasan yang tak berbatas, dan sebagainya, dapat menjadi racun yang sangat mujarab bagi semangat patriotisme. Media-media yang tak bertanggung jawab juga dapat merusak moral generasi muda.

Kinerja pemerintah ditantang sekarang. Pemerintah harus dapat menciptakan suatu kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila di masyarakat. Untuk itu, sistem hukum yang kuat harus dibentuk. Penegakannya pun harus dilaksanakan dengan bertanggung jawab.

Kebijakan-kebijakan pun harus dibuat tepat guna. Jangan sampai kebijakan yang dibuat tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Khusus untuk pendidikan, ada tiga pilar yang dapat dijadikan pedoman untuk menentukan kebijakan yang strategis, yaitu:
1. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan.
2. Mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan.
3. Good governance, akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Dengan memperhatikan tiga pilar tersebut, diharapkan pendidikan di Indonesia dapat menjalankan salah satu fungsi pentingnya, yaitu menanamkan semangat patriotisme yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi muda, dalam rangka menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Namun, tentu saja dengan mempertimbangkan bahwa remaja secara psikologi adalah bukan miniatur orang dewasa. Remaja adalah bentuk individu yang mandiri. Mereka memiliki sikap dan pendirian sendiri. Sehingga, generasi tua harus melihat bahwa remaja memiliki kesempatan proses berpikir dan kemandirian sebagai pribadi yang utuh.

Jadi, tanggung jawab generasi tua untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur bangsa, tanggung jawab generasi muda untuk menerima dan meneruskan tongkat estafet perjuangan bangsa, dan tanggung jawab seluruh generasi untuk membuat Indonesia mencapai tujuannya. Semoga, Bung Tomo-Bung Tomo baru bisa membawa kemakmuran dan kejayaan bagi Indonesia. Hidup Indonesiaku!

DAFTAR PUSTAKA

Ngemron, Moch. 2008. “Penanaman dan Perubahan Sikap Remaja Terhadap Patriotisme dan Demokrasi Dalam Perspektif Biologi”. Makalah Dalam Rangka Intensifikasi Pembinaan Kesiswaan, Purwokerto.
Widodo, Bambang. 2008. ”Generasi Muda dan Nilai-nilai Kejuangan Bangsa”. Makalah Dalam Rangka Intensifikasi Pembinaan Kesiswaan, Purwokerto.


ditulis oleh: Hanif Ilmawan

Jumat, 13 November 2009

Nasionalisme - 1

MELANGKAH MELALUI PENDIDIKAN

Indonesia adalah negara yang kaya. Indonesia memiliki banyak ragam budaya dan sumber daya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Namun, nampaknya kini menjadi lebih tepat jika paragraf di atas diawali dengan kata “Seharusnya”. Kemudian, kalimat selanjutnya diawali dengan kata “Percuma”.

Penyebab paling utama adalah korupsi merajalela. Bahkan, kabarnya korupsi telah meracuni para wakil rakyat, sang Pemegang Amanat Rakyat, juga kepolisian dan kejaksaan, sang Penegak Keadilan. Lantas, kepada siapa rakyat harus berpegang jika Pemerintah pun tak dapat dipercaya?

Sungguh, moral bangsa sudah nyaris tak ada. Mungkin moral bangsa telah habis, jatuh bersama peluh dan darah saat kita melawan para penjajah. Atau mungkin lenyap karena tertekan saat berada dalam cengkraman penguasa diktator. Yang jelas, kita harus menumbuhkan segera moral bangsa supaya Indonesia sanggup menjadi negara yang bermartabat.

Akhir-akhir ini Indonesia nampaknya mulai sedikit melupakan masalah pendidikan. Pendidikan kalah pamor dari ekonomi yang dianggap masalah utama saat ini. Padahal, keduanya saling menunjang satu sama lain. Keduanya juga tertulis dengan jelas dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 dan termasuk sebagai tujuan negara Indonesia, yakni “…memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”.

Andai pun ingat, Indonesia nampaknya tetap melupakan satu hal penting dari pendidikan. Hal tersebut adalah pendidikan akhlak dan budi pekerti luhur. Sebuah pendidikan yang sejatinya sama penting dan bernilai dengan pembelajaran tentang materi-materi mata pelajaran. Bukankah seseorang bisa sukses jika ia berilmu dan bisa memanfaatkan ilmunya semaksimal mungkin dengan balutan budi pekerti luhur serta akhlak mulia.

Mari kita tengok bersama. Banyak orang miskin di Indonesia. Parahnya, banyak di antara mereka yang tidak dapat meninggalkan batas kemiskinan karena mental mereka telah hancur. Mereka lebih memilih menunggu bantuan dari pemerintah atau orang lain. Bahkan, anehnya lagi, orang-orang yang bisa dianggap berkecukupan pun berlomba-lomba untuk mendapatkan status miskin. Apa pun dilakukan demi makanan. Itu lah Indonesia. Indonesia bermental pengemis. Indonesia baru berpikir cara mendapatkan makanan (terutama secara gratis) saat negara-negara lain memikirkan cara membuat makanan secara mandiri.

Sudah saatnya Indonesia bangkit. Dimulai dari pendidikan. Pendidikan dari jenjang yang paling rendah. Dengan pendidikan yang berkualitas, Indonesia akan memiliki pemuda-pemudi yang memiliki visi, yaitu memajukan bangsa ini. Sehingga, suatu saat nanti yang ada di Indonesia hanyalah orang-orang yang siap berjuang untuk negaranya tercinta, bukan orang-orang yang hanya bisa menjadi beban negara.


ditulis oleh : Hanif Ilmawan